Proyek Nasional Industri dalam Lapas Dimulai dari Open Camp Lapas Cibinong

0
40

Bogor – sergapreborn

Demi mewujudkan Revitalisasi Pemasyarakatan, khususnya untuk pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan pada tingkat minimum security, Ditjen Pemasyarakatan telah menyediakan sebuah lahan terbuka seluas 30 hektar yang berlokasi Ciangir, Tangerang sebagai lapas terbuka yang sekaligus difungsikan sebagai lapas industri. Fokus pembangunan lapas industri dalam bentuk pembinaan kemandirian ini bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan dan life skill bagi Warga Binaan Pemasyarakatan agar pada saatnya nanti bebas, mereka dapat mengembangkan bekal keterampilan tersebut untuk memperoleh penghasilan demi kelangsungan hidupnya. Ke depan, lahan yang berlokasi di Ciangir ini akan dijadikan sebagai Agro Wisata Nasional dan pusat kegiatan industri bagi WBP yang sudah bebas dan memiliki skill di bidang peternakan/pertanian. WBP yang sudah bebas akan didorong untuk bekerja di lahan tersebut sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Untuk mendukung hal tersebut, Ditjen Pemasyarakatan telah menetapkan pusat-pusat kegiatan industri di dalam Lapas di setiap provinsi / kantor wilayah dengan spesifikasi produk yang berbeda-beda disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing Lapas, salah satunya adalah Lapas Kelas IIA Cibinong.

Selain mendapatkan apresiasi sebagai Lapas berbasis Teknologi Informasi pada tahun 2017, Lapas Kelas IIA Cibinong juga ditetapkan sebagai salah satu Lapas Industri di antara 85 lapas industri lainnya di Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan seluas 2 hektar, Lapas Cibinong mengelola kegiatan industri di dalam Lapas atau yang lebih dikenal dengan istilah “open camp” berupa peternakan terpadu yang meliputi peternakan sapi, ayam petelur, kambing, ikan lele, perkebunan sayur dan pengelolaan biogas (limbah kotoran sapi menjadi pupuk).

Dalam mengelola peternakan terpadu, Lapas Cibinong tentunya selalu bekerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten Bogor melalui dinas peternakan dan pertanian. Selain itu, Lapas Cibinong juga menggandeng kerja sama dengan pihak ketiga, salah satunya dengan Yayasan Wanita Mandiri, pimpinan ibu Sri. Kerja sama ini bukan tergolong profit oriented, melainkan kerja sama yang diselenggarakan dalam bentuk pelatihan keterampilan dan life skill oleh tim dari Yayasan Wanita Mandiri. Pelatihan dan pengajaran yang dimaksud meliputi tentang cara-cara beternak, merawat hewan ternak dan memanfaatkan limbah kotoran hewan untuk diolah menjadi pupuk.. Selain mendapatkan keterampilan pengelolaan peternakan dan perkebunan, WBP juga mendapatkan premi atau upah yang berasal dari keuntungan produksi.

Agung Krisna, sebagai Kalapas Cibinong mengungkapkan harapannya terkait kegiatan industri di dalam Lapas ini : “bahwa tujuan Pemasyarakatan bukan lagi diwujudkan dalam bentuk penyiksaan atau balas dendam namun memulihkan kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan (integrasi sosial) saat dirinya kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, pada saat melaksanakan masa pidana di dalam Lapas selain dibekali dengan pembinaan kepribadian, mereka juga perlu dibekali dengan keterampilan dan pelatihan life skill yang mengarah pada perolehan penghasilan. Kami berharap agar WBP yang sudah mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian khususnya di open camp ini, ketika bebas nantinya sudah siap terjun ke masyarakat kembali, tidak merasa dikucilkan dalam lingkungannya dan mudah dalam mencari pekerjaan atau dapat mengembangkan life skill yang diperolehnya selama di dalam Lapas dalam bidang kerajinan tangan, peternakan dan pertanian dengan biaya yang sangat terjangkau.“

( Hery )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here