Mari Membicarakan Indonesia di Dunia Internet/digital

0
576

Bicara ID – , Hingga Januari 2016, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melansir, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 88,1 juta dari total penduduk Indonesia 252,4 juta. Artinya terdapat sekitar 34,9 persen masyarakat Indonesia telah melek teknologi.

Berimbas dengan tingginya penetrasi pengguna internet tersebut, layanan dan aplikasi di sektor internet juga ikut tumbuh, tidak terkecuali dengan media online. Jumlahnya bahkan sangat banyak. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat, saat ini ada sekitar 2.500 media online di Indonesia, baik yang teregistrasi maupun tidak.

Dengan banyaknya media online yang bermunculan, baik yang dilahirkan dari induk koran atau televisi, hampir semua mengusung konsep yang sama. Masih sangat minim media online yang mengutamakan riset dan data dalam menyajikan informasi. Alhasil, banyak pihak yang merasa resah dengan pemberitaan media online.

Tidak sedikit kasus yang berakhir di meja persidangan karena pemberitaan media online. Namun, lagi-lagi karena belum punya regulasi, tidak ada hukuman yang jelas buat media online yang melakukan pelanggaran. Salah satu jenis pelanggaran yang sering diabai oleh media online adalah isu perempuan dan anak.

Kita masih ingat kasus perselingkuhan bermotif pemerkosaan salah satu wartawati di Jakarta, atau yang sedang ramai-ramainya saat ini kasus penemuan mayat seorang anak dalam kardus. Ada banyak media online, dengan alasan trafik dan cerita sensasional, malah mengumbar identitas pelaku dan korban secara terang-terangan. Padahal sangat jelas dalam kode etik jurnalistik agar melindungi privasi baik korban maupun pelaku asusila.

Tidak kalah hebohnya yang terjadi di tingkat lokal, Makassar Sulawesi Selatan. Media online baru-baru ini ramai memberitakan istri seorang pengusaha yang berselingkuh. Bahkan ada media yang bertindak layaknya hakim dengan menyebarkan foto wanita tersebut tanpa sensor sama sekali dan tanpa persetujuan pemilik foto.

Fenomena ini bukan tanpa disadari oleh masyarakat. Malah sebaliknya, masyarakat sangat paham akan kondisi ini. Hanya saja, belum ada pilihan memadai yang diberikan kepada masyarakat atas hak informasi yang ingin diterimanya. Pemilik media dan pemodal adalah dari lingkungan itu itu saja, dengan kepentingan politis yang jelas jelas terbaca.

Maka lahirlah Bicara.id

Bicara.id lahir dengan mengusung tagline “Mari Membicarakan Indonesia”. Konsep yang sederhana dengan konsen pemberitaan lebih terarah, lugas dan tidak melulu memburu waktu. Kami melihat, banyak media online dengan genre yang sama telah merusak beberapa pilar jurnalisme, utamanya keakuratan.

Padahal, ibarat iman dalam keyakinan seorang manusia, akurat adalah pondasi utama satu media. Bahkan, seorang jurnalis mendapat titah paling penting dalam tugas-tugasnya sampai akurat ditekankan hingga tiga kali. Inilah yang Bicara.id ingin kembangkan dengan mengutamakan berita berbasi data dan riset.

Kami sadar, ini bukanlah pekerjaan mudah dan murah. Oleh karena itu, Bicara.id tidak tertutup untuk siapapun. Disini, siapa saja bisa membicarakan Indonesia. Mau politik, ekonomi, sejarah, pendidikan, lingkungan bahkan gaya hidup, anak muda, perempuan dan lain-lainnya akan mendapat tempat, dengan syarat, tidak menyalahi kaidah.

Bicara.id ingin mengajak masyarakat untuk lebih peka dan cerdas dalam memilih informasi. Kemajuan teknologi disatu sisi punya dampak yang positif, disisi lain sebaliknya. Jika didepan kita hanya informasi tentang nilai-nilai pesimisme, kami takutkan, Indonesia 20 hingga 30 tahun yang akan datang hanya tinggal nama dan orang-orangnya minim kepercayaan diri.

Indonesia adalah bangsa yang besar, harusnya kita bangga sembari mengawal keberlangsungan negara kesatuan ini. Dari itulah kami mengajak siapa pun untuk ikut bersama kami di Bicara.id untuk membicarakan Indonesia. Sekecil atau sebesar apapun andil kita, Indonesia akan tetap ada dari buah karya kita sendiri.

Akhir kata, kami berhapap, Bicara.id bisa membawa warna baru bagi media alternatif di Indonesia.

“Mari Membicarakan Indonesia”

(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here