Kesadaran Kemanusiaan

0
106

Opini Nasional – Sergapreborn

“Sang Ragu” akan terus mencari keberadaan dirinya hingga dapat menemukan jati diri yang sesungguhnya yaitu Kata hati (“Sang Nurani”) sebagai kebenaran sejati. namun pencarian jati diri tanpa dilandasi oleh kesadaran akan senantiasa dikuasai dan digagahi terus menerus oleh “Sang Ragu” sehingga melahirkan “Sang Ego Rasio” yang egoistis.
Persoalan makin pelik ketika “Sang Nurani” kehilangan kesadaran hakiki karena termakan oleh kewaswasan, berupaya sekuat tenaga mengkikis habis keangkuhanan rasio Sang Ego sebagai bentuk penyesalan, namun tanpa disadari tindakkan tsb justru makin membuat “Sang Ego Rasio” menjauhi dan meninggalkan “Sang Nurani” karena dipengaruhi keangkuhan.
Keangkuhan “Sang Ego Rasio” makin menjadi dengan melakukan mengembaraan di dunia menuju arah Timur dalam rangka mencari kecerdasan Intelektual meski pada akhirnya kembali ke barat karena secara sadar maupun tidak sadar hanya “Sang Nurani”-lah yang selalu dicari dan dirindukannya.
Walau “Sang Ego Rasio” telah kembali ke barat Penyatuan dengan “Sang Nurani”, tidak semudah yang dibayangkan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya “Sang Ego Rasio” harus mampu membuat satu telaga kehidupan yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam yang dilandasi kasih sayang, interdependency, silih asih, silih asah dan silih asuh yang humanis harmonis. Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh “Sang Ego Rasio” sendiri yang tidak terlepas dari sejarah dirinya, asal muasalnya sejak dari awal terbit kehidupan. “Sang Ego Rasio” pun harus menunjukkan keberadaan dirinya dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang hingga suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang.
Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya “Sang Ego Rasio” dengan “Sang Nurani”, gagal karena keburu hadir akhir hayat dikandung. Akhirnya suratan takdir yang menimpa “Sang Ego Rasio” hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka jadilah seonggok manusia transcendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya.
walau demikian “Sang Ego Rasio” masih merasa penasaran, dikejarnya terus “Sang Nurani” dengan harapan dapat luluh bersatu tetapi ternyata “Sang Nurani” hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami “Sang Ego Rasio”.
Akhir kisah yaitu ketika kesadaran “Sang Ego Rasio” tumbuh dengan mampu mengorbankan keangkuhan rasionya sehingga tidak ada sumbat dominasi keangkuhan rasio. Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro) dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat.

KABAYAN (Kabeh Balad Kang YAYAN)

( Mulyani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here