Didakwa Gelapkan Uang Rp 7 Miliar, Dirut Rumah Sakit Diadili

0
870
Hartanto Jusman, terdakwa kasus dugaan penggelapan uang sedang mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang

TANGERANG, Sergapreborn — Didakwa menggelapkan uang milik perusahaan senilai Rp 7 miliar, Hartanto Jusman, (56), Direktur Utama PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA), perusahaan pengelola Rumah Sakit Ariya Medika diadili di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Senin (7/1/2019) kemarin.

Pria yang saat ini menjadi tahanan kota Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang itu menjalani sidang perdana di hadapan Majelis Hakim Dr. I Ketut Sudira, SH, MH.

“Terdakwa Hartanto Jusman kami jerat dengan pasal 374 dan 372 KUHP atas perbuatannya menggelapkan uang milik PT Bumi Sejahtera Ariya senilai Rp 7 miliar,” ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ayanih, SH dalam dakwaannya.

Dalam dakwaan, jaksa mengungkapkan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh terdakwa Hartanto Jusman selaku Direktur Utama PT BSA.

“Pada tanggal 22 Juni 2017 sekitar pukul 15.00 WIB di Bank Mandiri Cabang Tangerang Kisamaun telah memindahkan uang dari rekening atas nama PT Bumi Sejahtera Ariya ke rekening pribadi, atas nama Hartanto Jusman sebesar Rp 7 miliar,” ungkap JPU Ayanih dan JPU Taufik.

Jaksa menuturkan, setelah uang perusahaan tersebut masuk ke rekening pribadi terdakwa, pada tanggal 23 Juni 2017 sampai dengan Februari 2018, terdakwa tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya.

“Akibat perbuatan terdakwa, pembiayaan operasional Rumah Sakit Ariya Medika menjadi terganggu, bahkan bisa bangkrut, karena semua dana operasional dipindahkan ke rekening pribadi, saksi Elisabet, staf keuangan melaporkan persoalan tersebut ke saksi Suherman Mihardja selaku Direktur perusahaan, terdakwa kemudian dilaporkan ke Polres Metro Tangerang Kota,” paparnya.

“Uang milik perusahaan hingga kini masih berada di rekening milik terdakwa,” sambung JPU Ayanih didampingi JPU Taufik.

Menurut jaksa, perbuatan terdakwa sebagai Direktur Utama sangat bertentangan sebagaimana diatur dalam Akta Pendirian PT BSA.

“Terdakwa bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugasnya yang ditujukan untuk kepentingan perseroan dalam mencapai maksud dan tujuan perusahan,” ujar jaksa sebagaimana dijelaskan dalam dakwaan.

Suherman Mihardja, SH, MH, selaku saksi pelapor dalam perkara ini sangat menyesalkan perbuatan terdakwa, karena dengan dipindahkan dana tersebut, maka operasional rumah sakit sangat terganggu bahkan hampir mengakibatkan bangkrut.

“Saya harus menggunakan uang pribadi untuk membantu operasional rumah sakit selama terdakwa menghilang sejak tanggal 23 Juni 2017 dan baru kembali Februari 2018 ke Indonesia setelah dideportasi oleh pihak imigrasi Malaysia karena melebihi batas waktu tinggal (overstay),” ungkap pengusaha yang juga advokat itu.

(AJ/sergap)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here