4 Kelebihan Media Digital Dibanding Media Cetak

0
2024
Kecanggihan Media Online

Bicara ID – Penghujung 2015, ruang-ruang diskusi publik disibukkan dengan perdebatan antara media digital dan media cetak. Kisruh ini bermula dari tulisan wartawan senior Harian Kompas, Bre Redana berjudul “Inikah Senjakala Kami…” yang terbit di Kompas Cetak.

Tulisan itu juga ditampilkan di Kompas.com yang kemudian menjadi viral dimana-mana. Banyak yang menuding hal ini sebagai sesuatu yang berlebihan namun tidak sedikit pula yang membenarkan. Bre juga dinilai terlalu cengeng dan menampilkan sosok media digital sebagai ancaman dengan penyebutan “kami” dan “mereka”.

Penggambaran Bre dalam tulisannya seakan-akan menempatkan media digital sebagai pembunuh jurnalisme yang sesungguhnya. Ia menilai, media cetaklah sosok jurnalisme yang paling tepat dan ideal. Sendi-sendinyalah yang dinilai sebagai wujud dari jurnalime itu sendiri.

Tapi benarkan demikian?

Wahyu Dhyatmika, Wartawan senior Tempo juga membuat tulisan menyikapi riuh rendahnya perdebatan media digital dan media cetak. Tulisannya yang berjudul “Senjakala Suratkabar dan Kebangkitan Jurnalisme Digital” seperti pemadam kebakaran yang menenangkan sekaligus membari solusi.

Ia menampilkan jurang perbedaan paling jauh antara media cetak dan digital yang cukup komprehensif. Berikut rangkuman kelebihan-kelebihan media digital dari media cetak berdasar analisa Wahyu Dhyatmika.

1. Lebih Komprehensif

Perbedaan paling utama dan mendasar adalah kemampuan media digital dalam melaporkan peristiwa dengan lebih komprehensif pada pembaca/audiens. Sebuah berita di era digital tak hanya terdiri dari teks dan foto, tapi juga tautan ke semua peristiwa sebelumnya yang mengawali momen termutakhir dari berita bersangkutan.

Dengan satu klik, pembaca bisa dibawa ke harta karun informasi digital yang bisa menjelaskan sejarah, kronologi dan konteks dari peristiwa yang tengah diberitakan. Peranan ini tentu saja tidak dimiliki oleh media cetak.

2. Lebih Otentik

Berita digital juga berpotensi lebih otentik, karena bisa menampilkan realitas secara lebih utuh. Bisa ada video di halaman yang sama dengan teks dan foto, sesuatu yang jelas menambah kredibilitas dan akurasi dari informasi yang dimuat di sana.

Misalnya, saat seorang anggota DPR dituduh mencaci maki seseorang, media digital bisa menampilkan video atau audio ketika sang politikus beraksi. Politikus itu tak bisa berkilah kalau omongannya diplintir, atau wartawan memfitnah dirinya, kalau rekaman audio atau video ketika dia mencacimaki lawan politiknya bisa ditampilkan bersama berita.

Lihat saja kasus #papamintasaham. Peristiwa itu akan jauh berkurang daya ledaknya, jika tak ada rekaman audio yang beredar luas di media sosial.

3. Big Data

Media digital yang belum banyak digali adalah kemampuannya menampilkan big data atau data besar. Semua angka-angka hasil survei kesehatan, survei demografi, sensus, angka-angka hasil pemantauan bertahun-tahun, kini sudah banyak tersedia sebagai data digital terbuka (open data) dan dengan mudah dapat diakses di internet.

Ada portal data.go.id yang menampilkan seabreg data pemerintah dari hampir semua kementerian. Di Jakarta, sudah ada portal serupa.

Jika dulu suratkabar atau majalah hanya bisa memuat satu dua paragraf temuan berbagai survei itu dan melengkapinya dengan wawancara dengan pakar untuk menafsirkan data, kini data mentah itu bisa ditampilkan dengan utuh di laman media digital, dengan visualisasi yang menarik dan mengundang rasa ingin tahu pembaca.

Jurnalisme data akan menjadi tulang punggung utama jurnalisme di era digital, karena teknik ini memungkinkan publik mengakses data mentah dengan utuh, tanpa perantara dari pakar, pemerintah atau pengamat.

Untuk itu, jurnalis harus belajar dan berusaha keras mencari semua data-data yang relevan buat publik, membersihkannya dan menganalisanya, untuk kemudian ditampilkan dengan visualisasi yang mudah dipahami audiens.

Hal itu sangat penting agar data tak berhenti sebatas angka, namun bisa jadi pengetahuan yang berguna.

4. Interaksi Langsung

Yang satu ini menjadi kemampuan media digital yang tidak ditemukan di media cetak manapun, yakni kemampuannya untuk terhubung langsung dengan pembaca. Relasi atau engagement antara media, jurnalis dan pembaca kini memasuki era baru.

Pembaca kini adalah bagian dari redaksi, bagian dari newsroom di era digital. Mereka bisa memberikan tips, bocoran, saran, komentar, secara real time, pada redaksi. Aturan baku di media sosial adalah: selalu ada yang lebih tahu dari Anda di luar sana.

Pola diseminasi informasi di era digital kini multi arah, tak lagi hanya searah dari ruang redaksi yang “maha tahu” ke lautan pembaca yang perlu “diberi tahu”. Media massa kini adalah bagian dari percakapan publik, dimana produksi informasi tak lagi dimonopoli jurnalis.

Apa artinya? Ini kesempatan besar untuk jurnalisme menjadi lebih relevan. Bukankah jurnalisme pada dasarnya adalah upaya untuk menyediakan informasi yang penting dan berguna buat publik sehingga publik bisa mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik?

Jika khalayak ramai bisa langsung berkomunikasi dengan media dan menyampaikan apa saja yang mereka anggap penting, bukankah itu akan membuat redaksi dan jurnalis bisa bekerja lebih baik?

Jika dulu sama sekali tidak ada percakapan antara wartawan dan pembaca, kini publik dan media bisa bersama-sama merumuskan agenda pemberitaan, memfokuskan perhatian pada lembaga-lembaga yang memang perlu disorot karena dampaknya yang besar untuk kehidupan orang banyak.

 

Lihat Juga: Satu Persatu Koran di Indonesia Tutup Usia.

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here