Opini : Memilih Pemimpin Yang Amanah

0
193

MAKASSAR ,Koran Sergap – Umat Islam dalam praktik kehidupan sehari-hari sejatinya harus selalu menjaga etika dan moral terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang paling penting sangat perlu menahan segala hawa nafsu, baik membicarakan orang lain maupun menfitnah orang. Apalagi jelang Piilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019, umat Islam dilarang melakukan kampanye hitam (hoax), fitnah dengan menghina dan menjelekkan pasangan kandidat kepala daerah, capres dan cawapres.

Karena itu, sebagai umat Islam yang boleh di katakan mayoritas di negeri ini, menyambut Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 yang akan datang harus dijadikan momentum untuk selalu melakukan koreksi pada diri umat Islam.

Wajib disadari dalam islam terdapat ajaran nilai-nilai moralitas manusia, pendidikan yang mampu membangun wadah kesadaran moral manusia sebagai upaya menjadikan jati diri bangsa Indonesia, terutama kesadaran diri dalam memilih pemimpin baik itu calon kepala daerah mulai dari bupati/ walikota, gubernur dan presiden. Kita mengerti bahwa ada watak yang baik dan sifat yang jahat dalam setiap insan manusia. Sifat jahat itu menampak sekali dalam perilaku seseorang pemimpin bangsa Indonesia.

Seorang pemimpin yang tidak bisa memegang amanah dan tanggung jawab atas jabatannya. Rakyat, negara, dan bangsa juga merupakan amanah suci dari Allah SWT kepada para penguasa supaya dijaga dan dipelihara hak-haknya dengan adil dan dipelihara kelangsungan hidupnya dengan wajar.

Akan tetapi sebaliknya, bilamana amanah itu tidak disampaikan dan dilaksanakan menurut semestinya, itulah pangkal ketegangan dan kegelisahan yang akan menimbulkan bencana yang tidak kita inginkan.

Sejarah telah banyak menunjukkan akan kebenaran hal itu, siapa saja seorang pemimpin yang menyelewengkan amanah, maka tunggulah saat kehancuran suatu bangsa. Dalam Alquran, Allah telah memberikan peringatan kepada kita untuk berhati-hati, jangan mengkhianati amanah, sebagaimana firmannya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu khianati Allah dan Rasul, dan janganlah pula kamu khianati amanah-amanah yang dipercayakan dan yang menjadi tugasmu, sedang kamu mengetahui “(Surat al-Anfal, ayat 27).

Secara etimologis, amanah itu adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, melainkan juga, amanah itu merupakan sifat lurus dan penuh tanggung jawab, yang menjadikan seseorang percaya. Seseorang yang memiliki sifat amin, lurus, jujur, dan dipercaya itulah yang dapat mengamankan dan memelihara sesuatu amanah dengan penuh tanggung jawab. Lebih-lebih amanah itu terkait dengan memimpin sebuah negara atau bangsa Indonesia tercinta ini.

Adapun ciri-ciri dari pemimpin amanah adalah, pertama, tidak suka menjelekkan lawan politiknya, tidak melakukan kampanye hitam dan menfitnah, tidak melakukan pencitraan, tidak sering membeberkan keburukan sesama manusia.

Kedua, setiap kali mengucapkan janji, berusaha sekuat tenaga memenuhinya. Nabi Muhammad pernah tiga hari tiga malam datang ke sebuah tempat hanya karena ada janji dan orang yang berjanji lupa, akan tetapi Nabi tidak marah, karena keberuntungan  bagi beliau adalah kemampuan memenuhi janji. Sering kali orang mudah memberi janji dan melupakannya, tapi orang yang diberi janji biasanya tidak akan lupa. Pemimpin yang amanah bisa dilihat dari kehati-hatiannya berjanji. Menepati janji itu merupakan ciri-ciri menjadi seorang pemimpin bangsa.

Ketiga, bertanggung jawab terhadap setiap perkara kecil apa pun. Setiap berkata benar-benar tidak ada keraguan, tidak meremehkan waktu walau sedetik pun.

Karena itu, kita sebagai umat Islam yang merupakan suri teladan Rasulullah juga harus mampu melihat realitas sosial-politik di Indonesia saat ini, terutama dalam memilih pemimpin yang sesuai dengan ajaran agama Islam (dalam Alquran), sebagaimana firmannya, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin), dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (kamu),” (Surat Al-Imran, ayat 28).

Dengan demikian, masyarakat Islam yang bisa mengayomi semua agama di negeri ini diharapkan harus mampu memilih pemimpin yang amanah dalam Pilkada serentak 2018 dan Pemilu Presiden 2019 yang akan datang. Umat Islam dituntut untuk mampu memberikan hak pilihnya terhadap salah satu kandidat walikota, gubernur, capres dan cawapres yang benar-benar dapat mengemban amanah, memiliki kejujuran, ketegasan, kewibawaan, dan visi-misi yang konkret untuk kemajuan bangsa Indonesia. Semoga.

Imansyah Rukka – Ketua DPD Persatuan Pewarta Warga Indonesia – Sulawesi Setalan (DPD PPWI Sulsel), tinggal di Makssar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here